Kisah Tentang Jarum Suntik Anak-anak untuk Novanto



BeritaDotz -  DR. Bimanesh tak hanya didakwa melakukan manipulasi rekam medis untuk terdakwa dugaan korupsi proyek e-KTP, Setya Novanto. Bimanesh juga duga turut melakukan pemasangan sejumlah atribut pasien.

Pemasangan atribut pasien itu dimaksudkan Bimanesh untuk meyakinkan bahwa Novanto berada dalam kondisi tak sehat.

Permintaan itu dilakukan Bimanesh kepada seorang perawat RS Medika Permata Hijau bernama Indri Astuti. Bimanesh meminta agar Indri memasang perban pada luka di kepala Setya Novanto.

"Terdakwa juga menyampaikan kepada Indri Astuti agar luka di kepala Setya Novanto untuk diperban sebagaimana permintaan dari Setya Novanto," ujar jaksa KPK Takdir Suhan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (8/3).

Tak hanya perban yang diminta Bimanesh untuk dipasang pada Novanto. Untuk lebih meyakinkan kepada semua pihak bahwa Novanto memang membutuhkan perawatan intensif, Bimanesh juga meminta Indri agar tetap memasang infus pada Novanto.

"Terdakwa juga memerintahkan kepada Indri Astuti agar Setya Novanto pura-pura dipasang infus, yakni sekedar hanya ditempel saja," ucap jaksa Takdir.

Namun atas permintaan Bimanesh itu, Indri tak hanya sekedar menempel infus seperti permintaan Bimanesh. Indri juga memasang infus pada Novanto dengan jarum suntik yang ukurannya tak sesuai untuk kondisi pasien dewasa.

"Namun Indri tetap melakukan pemasangan infus menggunakan jarum kecil ukuran 24 yang biasa dipakai untuk anak-anak," kata jaksa Takdir.


Bimanesh adalah dokter Rumah Sakit Medika Permata hijau yang sebelumnya sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka bersama dengan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi.

Bimanesh dan Fredrich diduga berupaya menghalangi upaya penyidikan KPK terhadap Setya Novanto. Keduanya diduga memanipulasi data medis Setya Novanto agar bisa dirawat untuk menghindari pemeriksaan KPK pada pertengahan November lalu.

Setya Novanto ketika itu sedang dicari keberadaannya oleh KPK lantaran menghilang pada saat akan ditangkap. Mantan Ketua DPR itu dicari karena beberapa kali mangkir dari panggilan setelah ia kembali ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Atas perbuatannya, dokter Bimanesh didakwa melanggar Pasal 21 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-undang 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak pidana korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.